Tampilkan postingan dengan label Alutsista. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alutsista. Tampilkan semua postingan

ALUTSISTA RI: Menakar Ambisi TNI AL Membeli Frigate Dari Inggris

0 komentar
Rencana pembelian 3 kapal light multi role light frigate ragam class oleh TNI AL dari Inggris senilai US$380 juta sepintas sangat masuk akal.

Harga tersebut jelas lebih murah dibandingkan harga korvet sigma class yang dibeli oleh TNI AL dari galangan kapal Naval Schelde, Vlissingen, Belanda dengan nilai mencapai total US$680 juta untuk empat kapal.

Meski dimensi persenjataan kapal korvet sigma class jelas lebih lengkap dengan 2x4 rudal anti serangan udara Mistral Tetral, meriam Oto Melara 76 mm dek depan dan samping kanan kiri 20 mm, 4 peluncur rudal permukaan Exocet MM40 Block II, 2 seluncur torpedo, komputerisasi persenjataan Thales Tacticos, radar 3 dimensi, radar pelacak Lirod Mk2, Sonar Thales Kinglip aktif pasif, sistem penghindar serangan Thales DR3000, dan Therma SKWS.   


Maklumlah, kapal frigat jenis ragam class ini sebenarnya bekas dan semula dipesan oleh Brunei Darussalam yang  dibangun di galangan kapal BAE Systems Naval Ships, Scotland  pada 2001.

Namun, setelah muncul masalah legal (versi lain menyebutkan terbatasnya jumlah personel Tentera Laut Diraja Brunei untuk mengoperasikan mesin perang ini), negara yang dipimpin oleh Sultan Hassanal Bolkiah tersebut memutuskan batal menggunakan kapal itu dan menjual kembali kapal perang tersebut.

Kapal frigate ragam class merupakan kapal yang memiliki kecepatan maksimal 30 knot yang dilengkapi sensor radar dan avionik buatan Thales, Prancis.

Selain itu, kapal ini dilengkapi dengan satu meriam 76 mm, dua meriam penangkis udara kaliber 30 mm, torpedo, Thales Sensors Cutlass 22, Rudal permukaan ke udara Sea Wolf, rudal Exocet MM40 Block IIyang berjangkauan 180 km, dan hanggar yang mampu menampung satu helikopter anti kapal selam jenisSikorsy S-70 Seahawk.

Kemampuan persenjataan yang sebenarnya standar apalagi dibandingkan sejumlah Kapal Republik Indonesia (KRI) lama seperti Frigate Kelas Van Speijk  yang dilengkapi dengan rudal Yakhont  buatan Rusia.

Maklumlah rudal tersebut sempat membuat gempar kekuatan militer di kawasan Asean setelah TNI AL sukses mengintegrasikan sistem rudal tersebut dengan sejumlah KRI yang dimilikinya dan sukses menggelar uji coba pada April tahun lalu.


Ada sejumlah poin penting yang perlu diperhatikan dalam proses pembelian kapal frigate jenis ragam class.

Pertama, pastikan Inggris tidak melakukan campur tangan dalam penggunaan kapal perang ini. Jangan sampai kejadian penggunan Tank Scorpion dan Panser Alvis Stormer buatan Alvis Vickers, Inggris oleh TNI ketika terjadi konflik di Aceh dipertanyakan dan bahkan dilarang oleh produsennya.

Selain itu, penggunaan pesawat Hawk MK-109 dan Hawk MK-209 buatan British Aerospace System (BAe) juga sempat mendapat hambatan dari Inggris ketika TNI menggelar operasi penumpasan Gerakan Aceh Merdeka.

Pengiriman pesawat Hawk ke Indonesia juga sempat mengalami masalah ketika terjadi konflik di Timtim yang saat itu masih tergabung dengan Indonesia. Kedua, memastikan TNI AL harus memastikan berhak melakukan perubahan terhadap kapal ini termasuk menginstalasi sistem persenjataan baru ke kapal perang tersebut.

Sistem persenjataan rudal yang ada di frigate ragam class didesain untuk jenis Exocet MM40 Block II. Tentu TNI AL berhak untuk misalnya menginstalasi sistem rudal Yakhont yang mempunyai daya ledak yang kuat maupun jangkauan yang lebih jauh.

Ketiga, harus dimaklumi apabila pembelian ini direalisasikan hanya bersifat solusi praktis terhadap keperluan pengadaan kapal tempur milik TNI AL. Sehingga jangan berharap ada proses alih teknologi mengingat barangnya sudah ada.

Artinya, terlepas dari proses pembelian frigate ragam class,  rencana pembuatan korvet nasional tentunya harus segera direalisasikan di PT PAL yang dilakukan melalui jalinan kerja sama dengan perusahaan galangan kapal Naval Schelde, Belanda.

Pembelian frigate ragam class jangan sampai mengganggu perencanaan TNI AL untuk membeli 4 kapal perusak kawal rudal dari PT PAL, 16 kapal cepat rudal jenis Trimaran dari galangan kapal lokal.

Selain itu terdapat rencana pembelian  2 kapal survei, 1 kapal latih pengganti KRI Dewaruci, 2 unit kapal survei hidro oseanografi maupun 12 kapal pendarat tank (landing ship tank).

TNI AL dan Kementerian Pertahanan tentu harus menyiapkan sumber pendanaan untuk pembelian kapal yang di luar rencana ini. Terakhir, pembelian dilakukan secara goverment to goverment dan jangan melibatkan pihak ketiga yang menimbulkan biaya tambahan yang tidak diperlukan. Jales Veva Jaya Mahe. 
Continue reading →

Perkuat Alutsista, TNI AL Beli 6 Pesawat ke PT DI

0 komentar
Komandan Pusat Penerbangan TNI AL, Laksamana Pertama Sugianto, membenarkan bahwa jajarannya melakukan pemesanan 6 unit pesawat kepada PT Dirgantara Indonesia. Pesawat-pesawat itu terdiri atas 3 unit CN 235 dan 3 unit helikopter Bell 412 EP.


Sugianto menjelaskan, pemesanan keenam pesawat tersebut merupakan bagian rencana penambahan alat utama sistem persenjataan (alutsista).

Menurutnya, sampai 2014, TNI AL menyiapkan sejumlah rencana penambahan dan pemerkuatan alutsista. Namun, yang saat ini terealisasi yaitu baru pada helicopter BELL 412 EP.

Sementara itu, Humas PT Dirgantara Indonesia (DI), Rakhendi Triatna, mengungkapkan, saat ini, pihaknya menerima pemesanan pembuatan pesawat dari berbagai negara. Antara lain, sebutnya, Korea Selatan (Korsel), Thailand, Pakistan, Uni Emirat (UE), Burkina Paso, dan Senegal.


Selain negara-negara itu, lanjutnya, pihaknya pun menerima pemesanan pembuatan pesawat yang diajukan TNI AL. Disebutkan, secara total, jumlah pesawat yang dipesan TNI AL yaitu 6 unit.

"Itu terdiri atas 3 unit CN 235. Kontraknya, yang terjalin sejak 2009, yaitu 80 juta dolar AS. Tiga unit lainnya, yaitu helikopter BELL 412 EP," beber Rakhendi pada sela-sela tes penerimaan BELL 412 EP, yang dilakukan Komandan Pusat Penerbangan TNI AL, Laksamana Pertama Sugianto, di PT DI Bandung, Selasa (17/4/2012).  


Kabarnya, TNI AL pun siap memesan 2 unit CN 235. Jika itu terealisasi, tutur Rakhendi, secara total, TNI AL memesan 5 unit CN 235. Akan tetapi, tukasnya, sejauh ini, perjanjian kontrak mengenai pemesanan 2 unit CN 235 tambahan oleh TNI AL belum terjalin. Kendati begitu, Rakhendi menyatakan, kemungkinan besar, dalam waktu yang tidak lama, pemesanan itu dapat terealisasi.
Continue reading →

Komisi I Tinjau Alutsista Tua Batalyon 631

0 komentar
Komisi I DPR melakukan kunjungan ke Batalyon Infanteri 631/Antang Elang yang berada di bawah Komando Resor (Korem) Militer 102/Panju Panjung, Kalimatan Tengah. Kunjungan ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah, itu bertujuan meninjau alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang sudah berumur.

Wakil Ketua Komisi I DPR Hayono Isman di Palangkaraya, Senin (30/4/2012), mengatakan, persenjataan Batalyon Infanteri 631 sudah tua. Sudah cukup lama TNI tidak mendapatkan anggaran yang memadai untuk memodernisasi alutsista. Kini, peluang untuk meningkatkan kualitas alutsista semakin terbuka.

"Selama 10 tahun sejak reformasi, TNI mengalah dengan bidang pendidikan, kesehatan, dan kemiskinan dalam bidang anggaran," ujarnya.

Kunjungan Komisi I DPR juga bertujuan memperoleh informasi tentang pertahanan dan kesiapan TNI di Kalteng, khususnya Komando Daerah Militer XII/Tanjungpura.
Menurut Hayono, pengamatan sejauh ini menunjukkan, Kalteng memiliki potensi konflik sosial, tetapi antisipasi yang dilakukan sangat baik. Keberadaan Badan Intelijen Negara (BIN) dianggap sangat penting untuk mendeteksi kekerasan yang mungkin terjadi secara dini di Kalteng.

"Selain itu, kami juga akan menyerap informasi bidang komunikasi dan informatika melalui pertemuan dengan TVRI dan RRI," katanya.

Continue reading →

AS Tawarkan Pesawat F-35

0 komentar
Ada satu trik menarik yang dilakukan AS dalam menjual peralatan militer. Amerika Serikat selalu menawarkan satu atau dua langkah ke depan, yang terkadang susah untuk ditolak. Dalam pameran Kedirgantaraan di Singapura, kontraktor utama pembuat pesawat F-35 Lightning II, Lockheed Martin, melirik Indonesia sebagai salah satu negara potensial untuk penjualan pesawat generasi kelima berteknologi stealth tersebut.
Direktur pencarian pelanggan internasional Lockheed Martin, Dave Scott, mengatakan, kepercayaan komunitas internasional terhadap pesawat program Joint Strike Fighter (JSF) itu, makin tumbuh setelah Jepang memutuskan membeli F-35.
f 35 AS AS Tawarkan Pesawat F 35 Stealth untuk RI
Selain Jepang, negara calon pelanggan potensial pesawat berkemampuan mengelak dari deteksi radar itu adalah Korea Selatan, yang sudah mengajukan permohonan proposal penawaran, dan Singapura, yang menjadi salah satu partisipan kerja sama keamanan JSF. Di luar kedua negara itu, Lockheed Martin melihat Indonesia dan Thailand juga menjadi pasar potensial.
“F-35 adalah pesawat pengganti untuk pesawat F-16, F-18, A-10, Mirage, dan pesawat jet tempur generasi keempat lainnya. Jadi, logis jika melihat ke semua basis pelanggan kami yang saat ini mengoperasikan pesawat itu dan mengatakan mereka akan menjadi pelanggan potensial F-35,” tutur Scott.
Program JSF saat ini masih menghadapi berbagai masalah teknis, penundaan produksi, dan pembengkakan biaya pengembangan. Program F-35 mencatat rekor sebagai program pengembangan senjata termahal dalam sejarah Pentagon. Dalam kesepakatan dengan Jepang, satu unit pesawat ini dihargai Rp 1,1 triliun.

kf x ri korsel AS Tawarkan Pesawat F 35 Stealth untuk RI

Akankah Indonesia membeli pesawat F-35 stealth ini ?. Indonesia belum tentu tertarik. Saat ini Indonesiabekerjasama dengan Korea Selatan membangun pesawat semi-stealth KF-X. KF-X merupakan pesawat tempur modern dengan spesifikasi di atas F-16 dan di bawah F-35. Hasil kerja sama ini nantinya Indonesia akan menerima 50 unit jet tempur generasi 4,5 dan bisa memproduksi sendiri.
Continue reading →

Seasprite TNI AL, Helikopter Tersisih

0 komentar
seasprite helikopter 3 Seasprite TNI AL, Helikopter Tersisih
Helikopter Seasprite
Pemerintah tampaknya telah kepincut untuk membeli helikopter Seasprite, demi memperkuat skuadron helikopter TNI AL. Tahun 2012 ini, akan tiba 6 helikopter Seasprite dilengkapi senjata antikapal selam, serta lima Seasprite yang dipersenjatai antikapal permukaan.
Tambahan alutsista ini akan mengisi kelemahan yang dimiliki kapal TNI AL. “Helikopter merupakan ‘mata’ dan’telinga’ dari kapal tempur kita. Seasprite memiliki kelebihan: manuver, fleksibilitas, jangkauan, serta pendeteksian yang lebih cepat, ujar Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut, Laksamana Pertama TNI Untung Suropati.
Rencananya 11 Helikopter Seasprite yang akan dibeli, ditempatkan di KRI yang memiliki halipad.
seasprite helikopter 4 Seasprite TNI AL, Helikopter Tersisih
Heli Seasprite Selandia Baru

Seasprite mampu terbang dengan kecepatan tinggi serta mampu bermanuver saat menurunkan perangkat sonar pendeteksi kapal selam. Hasil pendeteksiannya akan dikirim ke kapal perang, untuk melakukan penangkalan.
Mengapa Seasprite ?
Apakah pemilihan helikopter Seasprite sudah tepat ?. Baru baru ini militer Selandia Baru mengeluhkan penggunaan Seasprite. Insinyur Selandia Baru menyatakan Helikopter Seasprite SH-2G susah dirawat dan memiliki jam terbang lebih pendek dari yang ditentukan.

Seasprite Selandia Baru hanya mampu terbang 882 jam sebelum masuk perawatan berat. Padahal menurut pabriknya, Seasprite bisa terbang 1240 hingga 1370 jam, sebelum perawatan. Korosi dan meningkatnya getaran pesawat, merupakan persoalan utama sehingga jam terbang helikopter lebih singkat.
seasprite rusak 300x211 Seasprite TNI AL, Helikopter Tersisih
Heli Seasprite

Selandia baru memiliki 5 heli Seasprite yang beroperasi di Fregat kelas Anzac sejak tahun 2001. Namun hingga kini hanya satu yang beroperasi. Sisanya dalam perbaikan. “Dua seasprite dalam perbaikan berat dan dua laginya menunggu perbaikan berat”, ujar Menteri Pertahanan Selandia Baru, Jonathan Coleman. Biaya perawatan keempat Heli itu cukup besar, Rp 7 milyar, sekali bongkar keempat helikopter.
Juru bicara Departemen Pertahanan Selandia Baru, Wayne Mapp mengatakan, mempertahankan penggunaan Seasprite hanya akan menambah persoalan bagi militer mereka.
Beli Seasprite ?
Apakah Indonesia akan tetap membeli helikopter Seasprite, sementara Selandia Baru berencana menghentikan operasinya ?.

Helikopter SH-2 Seasprite sudah dipensiunkan oleh Angkatan Laut AS. Seasprite juga ditolak AL Australia. Kini Angkatan Laut Selandia Baru akan mempensiunkan 5 unit SH-2 Seasprite mereka. Jangan jangan Indonesia hendak membeli Seasprites eks Selandia Baru ini ?. Wah…celaka.
Pengganti Seasprite
Membeli senjata yang menggentarkan lawan. Inilah doktrin yang dipegang TNI. Akankah doktrin ini berlaku untuk helikopter TNI AL.
Ada beberapa jenis helikopter yang dinilai layak untuk beroperasi di kapal perang TNI.

eurocopter panther Seasprite TNI AL, Helikopter Tersisih
AS565 MB Panther

Yang paling populer adalah Eurocopter AS565 MB Panther. Sonar Panther dapat mendeteksi kapal selam dalam jarak jauh dari berbagai kedalaman laut, di luar jangkauan torpedo kapal perang lawan.
Panther merupakan helikopter paling sempurna untuk antikapal selam atau anti-submarine warfare (ASW). Panther juga siap melakukan serangan torpedo baik saat di udara, maupun ketika masih di deck kapal. Dia bisa menyerang kapal selam tanpa harus mendekati kapal tersebut. Panther juga didisain untuk surveilans serta anti kapal permukaan.
Ia mampu terbang selama 4 jam (bagus untuk helikopter ukuran sedang) dan dipersenjatai peluru kendali jarak menengah untuk menghancurkan sasaran di luar cakrawala (OTHT).
panther helicopter1 Seasprite TNI AL, Helikopter Tersisih
Heli AS565 MB Panther

Apakah Indonesia membutuhkan Eurocopter AS565 MB Panther ? TNI seharusnya mengutamakan armada helikopter pengintai dan anti kapal selam, untuk mempertajam indra kapal perang RI. Keperluan meningkatkan daya gentar Indonesia di laut bukan berlebihan, karena Indonesia negara maritim terbesar.
Saat ini TLDM Malaysia menggunakan Helikopter Super Lynx sebagai anti-submarine warfare (ASW) mengganti Heli Westland Wasp yang pensiun. Sementara Singapura memesan 24 heli MH-60R Seahawk Romeo untuk mengganti S-70-B Seahawk dan membatalkan proyek pengadaan Heli Seasprite.
Continue reading →

Kapal Cepat Rudal Trimaran, Masih Misteri

0 komentar
Kapal perang Trimaran seperti di atas, sedang dibangun oleh PT Lundin Industry Invest, di Banyuwangi- Jawa Timur. Bulan Mei atau Juni 2012, ditargetkan rampung satu kapal. Kapal ini anti radar atau stealth karena dibuat dari bahan komposit, bukan logam.
TNI AL memesan 4 kapal Trimaran dengan harga satu kapal Rp 114 Miliar. PT Lundin Industry Invest sepakat mengerjakannya secara bertahap dan semua akan selesai tahun 2014.
Pikiran pertama yang muncul dibenak kita adalah, mungkinkah hal itu menjadi kenyataan atau hanya angan-angan semata.
trimaran model Kapal Cepat Rudal Trimaran, Masih Misteri

AS dan China
Hingga saat ini hanya negara-negara maju, yang bisa membuat kapal trimaran. Amerika Serikat pun baru membuat kapal perang trimaran pada tahun 2008. Itu pun masih dari bahan alumunium, sehingga kemampuan stelathnya masih diragukan. Kapal trimaran itu diberi nama USS Independence.

uss independence lcs 2 920 6 Kapal Cepat Rudal Trimaran, Masih Misteri
Kapal Trimaran USS Independence
Saat ini Amerika Serikat sedang bereksperimen dengan Trimaran Sea-Shadow. USS Sea Shadow dibuat berkemampuan stealth dan memiliki target, harus dapat menghindar dari radar Rusia.
sea seadow uss Kapal Cepat Rudal Trimaran, Masih Misteri
Trimaran USS Sea Shadow - Eksperimental
Negara lain pembuat kapal Trimaran tentunya, negara super power Rusia yang juga masih dalam tahap eksperimen. China juga mengembangkan kapal stealth trimaran dan telah mengekspornya ke Pakistan. Itu pun ukurannya masih kelas medium. Pakistan yang sudah cukup maju dalam teknologi militer, belum mampu membuatnya. Lalu apakah Indonesia bisa membuat Trimaran?
trimaran china Kapal Cepat Rudal Trimaran, Masih Misteri
Kapal Trimaran China

china stealth boat Kapal Cepat Rudal Trimaran, Masih Misteri
Pabrik kapal Trimaran terletak di Banyuwangi-Jawa Timur, namun pembuatnya orang Swedia bernama John Lundin.
John Lundin 
John Lundin mendapat tugas dari TNI AL membuat kapal perang trimaran sepanjang 60 meter yang mampu dipacu sekencang 150 km/ jam.

Dokumentasi terakhir tentang perkembangan Trimaran adalah, adalah kunjungan Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin ke pabrik pembuatan Trimaran, 20 Desember 2011.
Dalam kunjungan ini terlihat bagian bawah kapal trimaran sedang dikerjakan.
lundin trimaran 1 Kapal Cepat Rudal Trimaran, Masih Misteri
Rangka Kapal Trimaran Lundin

Wakil Menteri Pertahanan mengatakan (20/12/2011), kapal trimaran pertama, selesai dibangun 5 bulan ke depan. Berarti Trimaran seharusnya selesai bulan Mei atau Juni 2012.
Trimaran yang ditunggu tunggu belum juga terlihat. Banyak pihak yang meragukan, John Lundin mampu membuat trimaran seperti model yang telah ia publikasikan.

lundin trimaran 2 300x199 Kapal Cepat Rudal Trimaran, Masih Misteritrimaran lundin 4 300x199 Kapal Cepat Rudal Trimaran, Masih Misteri
Keraguan ini bertambah besar, karena sejak Desember 2011, tidak pernah terlihat lagi gambar perkembangan kapal stealth Trimaran.
Akankah keraguan jadi kenyataan ?
Kita telusuri dulu sejarah hidup si pembuatnya. John Lundin merupakan warga Swedia yang dilahirkan dalam keluarga pembuat kapal cepat dan kapal layar bernama Swede Ship Group. Perusahaan ini telah membuat 200 kapal patroli untuk Swedia dan negara Skandinavianya lain. Mereka juga membuat beberapa kapal pesiar.

Di tengah jalan, tiba tiba ayah John Lundin, yakni Alan Lundin, meninggal dunia karena kanker. Tak lama kemudian, perusahaan kapal keluarga Lundin ikut bangkrut.
Dalam keputusasaannya, John Lundin pergi ke Bali tahun 1990-an sambil menjual dua kapal ferry yang tersisa. John berpikir Bali merupakan tempat berkumpulnya wisatawan asing yang memiliki banyak wisata laut. Di Indonesia John bertemu Lizza, jatuh cinta dan akhirnya menikah.
lundin dan lizza Kapal Cepat Rudal Trimaran, Masih Misteri
John Lundin dan Lizza

Pada tahun 1990-an John dan Lizza mendirikan perusahaan furniture bernama Super Dry di Banyuwangi, dengan pasar penjualan China dan Eropa. Usahanya tidak berkembang. John akhirnya memilih hijrah, untuk membuat kapal cepat dengan mendirikan PT Lundin Industry Invest pada tahun 2003 di Banyuwangi Jawa Timur.
Ayah John telah terbiasa membuat kapal patroli untuk tentara maupun Polisi di Skandinavia. Bekal ilmu tersebut ditawarkan John Lundin ke TNI AL. Ia menawarkan kapal patroli cepat X2K. TNI AL merasa gembira dengan kapal pertama X2K John Lundin. TNI AL dan Polisi akhirnya memesan 40 X2K untuk pasukan Kopaska dan Marinir.
x2k tni al john lundin Kapal Cepat Rudal Trimaran, Masih Misteri
Kapal X2K TNI AL
Sejak Kontrak dengan TNI AL, perusahaan John Lundin terus menguat dan berkembang. Bahkan Negara Malaysia dan Singapura juga telah memesan 40 kapal patroli X2K John Lundin. Brunei Darussalam juga menginginkan kapal patroli cepat tersebut.
Catamaran
John Lundin tidak puas. Dia terus mengembangkan konsep mutahir pembuatan kapal cepat untuk militer. Sementara istrinya Lizza, mencari pasar penjualan.

Pada tahun 2008, TNI AL menjalin kerjasama dengan John Lundin untuk membuat kapal perang atau kapal patroli militer yang lebih besar. John menamainya Catamaran X -38.
catamaran kopaska Kapal Cepat Rudal Trimaran, Masih Misteri
Catamaran Kopaska - Lundin

Konsep Catamaran ini meniru disain dari Kapal SAR negara Swedia yang kecepatannya mencapai 40 knots atau 100 km/jam. John Lundin membuat kapalnya, sementara sistem kesenjataan bekerjasama dengan insinyur TNI AL.
Catamaran X – 38 akhirnya selesai dibuat akhir tahun 2011 dan sebagian telah diserahkan kepada TNI AL. HIngga kini John Lundin telah mengerjakan 72 unit kapal untuk keperluan militer dan lainnya.
Dalam perjanjian tahun 2008 itu, John Lundin juga menyanggupi untuk membuat kapal perang/ kapal patroli yang lebih besar yakni Trimaran yang memiliki panjang 60 meter.
John Lundin lalu ingat dengan disain seorang pembuat kapal siluman asal New Zealand dengan kapal bernama EarthRace. Kapal ini memenangi balapan kapal keliling dunia. Ketangguhan kapal EarthRace telah terbukti dan merupakan kapal boat tercepat yang pernah dibuat.
Earthrace 1 Kapal Cepat Rudal Trimaran, Masih Misteri
Trimaran Earthrace Selandia Baru

John, lizza dan 7 staf mereka, akhirnya pergi ke Selandia Baru dan mendapatkan sambutan hangat dari pemilik kapal EarthRace. John Lundin, bertanya apa yang terjadi jika ia membuat kapal sejenis, yang ukurannya tiga hingga empat kali lebih besar.
Pemilik EarthRace mengatakan, kapal tersebut akan jauh lebih bagus. Lebih dari itu, pembuat kapal EarthRace bersedia bergabung membuat disain Trimaran pesanan TNI AL. Target mereka adalah membuat kapal patroli super besar, menyaingi kapal patroli Swedia yang harganya jauh lebih mahal.

earthrace Kapal Cepat Rudal Trimaran, Masih Misteri
Dalam kunjungannya selama 3 tahun di Selandia baru, John Lundin menghabiskan dana Rp 50 miliar, untuk membuat disain dan pembangunan kapal Trimaran. Setengah dari dana tersebut ditanggung TNI AL.

John Lundin terikat kontrak membuat satu kapal Trimaran berukuran 60 meter, berbahan baku komposit carbon glassfiber. John Lundin juga memiliki opsi untuk membuat tiga Trimaran lainnya, jika Trimaran pertama sukses dibuat.
“Saat ini Amerika Serikat memiliki Trimaran berukuran 120 meter namun terbuat dari bahan Alumunium”, ujar John Lundin.
John Lundin juga menyiapkan disain paling mutahir, untuk bagian atas Trimaran, agar berbeda dengan kapal trimaran lainnya. John Lundin hendak mewujudkan mimpinya yang tidak kesampaian saat masih berada di Swedia.
“Kami telah menyewa disainer dan insinyur terbaik yang ada di pasar internasional. Kami memiliki disainer dari The America Cp, Volvo Ocean Race dan juga spesialis pembuat kapal cepat dari Swedia”, ujar John Lundin.
Spesifikasi Trimaran
KCR Trimaran rencananya akan memiliki panjang 63 meter dan lebar 15 meter. Kapal ini mengangkut 31 personil dan dilengkapi 4 rudal C 802 berdaya jangkau 120 km. Kecepatan maksimum 30 knot, kecepatan jelajah 16 knot, didorong oleh mesin 4 X C32 Caterpillar.

trimaran tni al lundin Kapal Cepat Rudal Trimaran, Masih Misteri
Model Kapal Cepat Rudal Trimaran

Badan kapal Trimaran dibuat dari karbon komposit, sama dengan yang digunakan di pesawat dan mobil Formula satu, 20 kali lebih kuat dari baja. Hal ini untuk memastikan kapal Trimaran tangguh dibawa kemana saja dan dalam medan laut apapun.
“Ini merupakan kapal Trimaran pertama yang dibuat dari serat karbon”, aku John Lundin.
Kapal Trimaran memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan kapal konvensional. Trimaran mampu berlayar di perairan dangkal, tidak mudah tenggelam, stabil ketika diterpa angin kencang, serta lincah dalam bermanuver ketimbang kapal konvensional. Dengan desain multihullsnya, trimaran mampu mendongkrak kecepatanan kapal.
Akankah Kapal Trimaran jadi diserahkan John Lundin kepada TNI AL. Jika melihat sejarah hidup dan petualangannya di atas, tampaknya pria dari negara pembuat telepon seluler Ericsson ini, mampu memenuhinya. (Jkgr).
Continue reading →