Tampilkan postingan dengan label Paskhas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Paskhas. Tampilkan semua postingan

Selain Perang, Den Bravo Juga Bisa Dance

0 komentar
DANCING. Wah, pasti kita semua langsung berpikir itu kegiatan rutin boy band. Tapi ini beda. Enam laki-laki gagah, berseragam lengkap, dengan wajah ditutupi yang tergabung dalam Bravo Dance merupakan gabungan anggota TNI AU. Mereka mulai dikenal di kalangan TNI AU sejak tampil dalam acara pisah sambut setelah latihan bersama MALINDO (Malaysia-Indonesia) tahun 2010.

"Setiap latihan bersama angkatan udara lain, selalu ada acara malam keakraban, biasanya
nampilin sesuatu. Muncullah ide untuk nge-dance. Kan belum pernah ada. Semuanya spontan aja. Mulai saat itu orang jadi tahu, Den Bravo bisa nge-dance," ujar Komandan Den Bravo.


Saat ini, Den Bravo sudah banyak dikenal kalangan luar lho. Hari ini, Senin (9/4), kelompok yang beranggotakan cowok-cowok gagah itu tampil dalam acara Wideshot Metro TV. Tidak tanggung-tanggung, mereka membawakan dua tarian yang mengagumkan. Bukan cuma tariannya, persiapan mereka pun ternyata juga sangat mengagumkan.


"Kami
dapet kabarnya mendadak, jadi saya dengerin semua lagu yang ada di HP, pas udah dapet, kita semua ngumpul untuk sharing gerakannya seperti apa. Jadilah gerakan seperti yang tadi ditampilin," ujar salah satu anggota Bravo Dance. 



Dalam memilih gerakan pun mereka lakukan bersama-sama. Siapapun boleh sumbang saran. Mereka tinggal mengkombinasikan gerakan-gerakan dari berbagai tarian, dan membuatnya berbeda dari tarian aslinya.


Wow
! Memang, menjadi anggota TNI AU dituntut untuk berpikir cepat dan tepat, dan strategis. Nah cara berpikir seperti itu juga berlaku saat mereka berlatih. Untuk menghapalkan gerakan, mereka tidak membutuhkan waktu lama. Spontanitas dan kreativitas mereka memang tak bisa dipandang sebelah mata.  



Kostum yang digunakan pun adalah busana lengkap khas pasukan khusus. Hanya saja ada penyesuaian jika kostum digunakan untuk menari. Menurut sang Komandan, ketika menari, anggota tidak mungkin menggunakan aksesoris kostum operasi yang beratnya mencapai 12 kilogram yang terdiri dari senjata dan plat baja depan dan belakang. "Kalo
nari kan kita maunya ringan, jadi kita lepasin baja di depan dan belakang," ujarnya.

Menurut sang Komandan, siapapun yang ada dalam kesatuan, boleh ikut dalam
ekstrakurikuler dance. Hanya saja, jika akan tampil, mereka biasanya melakukan seleksi terlebih dahulu, yang terbaiklah yang akan terpilih untuk tampil.

Menari menjadi hiburan tersendiri bagi anggota pasukan khusus yang bertugas melaksanakan operasi khusus seperti penanggulangan teror, sabotase, dan pembajakan udara ini. Menurut salah satu anggota, menari membuat mereka merasa rileks, menghilangkan jenuh, dan membuat hati mereka senang. Terlebih jika bisa bercanda dan menghibur teman-teman yang lain.


"Kalau latihan kita biasanya
ngadepin peluru, terjun, dan mikirin gimana caranya bisa mendarat dengan benar. Dengan menari semua ketegangan waktu latihan, rasa jenuh, stres, bisa hilang," ujarnya.

Dengan dikenalnya Bravo Dance, mereka berharap masyarakat tahu dan tidak khawatir, karena negeri ini memiliki pasukan khusus. "Mungkin banyak orang nggak tahu tentang Den Bravo. Kita pengen orang tahu kalau Indonesia punya pasukan khusus. Kita punya Den Bravo, jangan khawatir. Caranya, bukan hanya keluar pas ada teroris. Kita juga mau orang tahu kita ada, lewat dance," ujar sang Komandan.
Continue reading →

Paskhas TNI Siap ke Papua

0 komentar
Kepala Staf Angkatan Udara, (KSAU), Marskal Imam Sufaat, memastikan kesatuannya siap bila personilnya, Paskhas TNI AU diperlukan diturunkan ke Papua.

Saat ditemui usai perayaan Hut TNI Angkatan Udara, di Taxi Way Echo Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (09/04/2012), ia mengatakan saat ini ada sejumlah pasukan Paskhas, yang ditempatkan di Papua seperti di Biak, Jayapura, Merauke dan Timika.
"Kebetulan di biak Merauke dan Timika ada Radar yang harus dijaga," katanya.


Imam lebih jauh menjelaskan bahwa TNI AU masih menunggu perintah, apakah pihaknya harus menambah personil, terkait penembakan pesawat Trigana Air bernomor lambung PK-YRF di lapangan Terbang Mulia, Puncak Jaya, Papua, kemarin, Minggu (08/04/2012) "Kita masih menunggu perintah atasan," tandasnya.
Continue reading →

Batalyon 463 Paskhas Lakukan Jungar

0 komentar

Sedikitnya 153 prajurit dari Batalyon 463 Pasukan Khusus (Paskhas) Angkatan Udara Lanud Iswahyudi Magetan, Jawa Timur mengelar latihan terjun di landasan pesawat tempur Iswahyudi Magetan .” Latihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan prajurit dalam mempertahankan pangkalan udara,”ujar Letkol.PSK. Roosen L Sinaga Komandan Batalyon 463 Paskhas Lanud Iswahyudi Magetan seusai melakukan terjun bebas. Rabu.(14/03/2012).
“Latihan ini terbagi menjadi dua penerjun. 124 prajurit Paskhas melakukan terjun taktis, sedangkan ke 9 lainnya melakukan  dengan terjun free fall atau terjun bebas. Latihan ini kami lakukan dalam satu kali se tahun,”jelasnya kepada magetankumandang.com
Sinaga menambahkan, latihan ini biasa disebut jungar (Terjun penyegaran). Terjun bebas atau free fall untuk pagi ini  (red, rabu) sedikit ada kendala tentang cuaca, sesuai rencana akan terjun di atas 1000 feets, karena cuaca tidak mendukung akhirnya dilakukan  sebatas pada ketinggian 8000 feets.
“Bagi prajurit Paskhas yang memakai terjun taktis tetap dilakukan pada ketinggian 1200 feets, karena ini merupakan latihan rutin yang harus  siap pada cuaca apapun,”jelasnya.
4 kali pesawat C-130 Hercules  A-1323 terbang mengantar Baret Jingga untuk latihan terjun. Pada saat ketinggian 1200 feets Satu persatu prajurit keluar dari perut pesawat. Lebih kurang 5 sampai 10 menit Baret Jingga mendarat di sepanjang landasan pesawat tempur.
Dalam latihan atau jungar selama lebih kurang memakan waktu 3 jam dari 153 prajurit baret Jingga dalam keadaan aman.”Latihan ini tetap kami lakukan, karena tugas pokok kami adalah untuk mengamankan tanah air tercinta ,” tegas Sinaga.
Continue reading →

Paskhas Jadi Andalan TNI AU

0 komentar
Korps Pasukan Khas (Paskhas) TNI Angkatan Udara berulang tahun ke-64 yang dirayakan dengan upacara di Pangkalan Udara (Lanud) di Indonesia.

Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan di Jakarta, perjuangan Korpaskah sebagai pasukan khusus di lingkungan Angkatan Udara telah menunaikan banyak tugas.

"Beragam penugasan yang dijalankan Korpaskhas telah menjadikan Korps Paskhas tumbuh dan berkembang menjadi salah satu andalan sekaligus kebanggaan yang dipercaya menjadi kekuatan pasukan pemukul Angkatan Udara di darat dengan ciri khas yang berbeda dengan pasukan lainnya," terang Kepala Staf Angkatan Udara.

Pesan KSAU disampaikan di seluruh Lanud di Indonesia yang menggelar upacara peringatan Ultah Paskhas. KSAU menilai kesuksesan Korps Paskhas dalam mengemban tugas sejalan dengan motto Korps Paskhas 

"Karmanye Vadikaraste Mafalesu Kadatjana" yang berarti "Bekerja tanpa menghitung untung dan rugi". Paskhas memiliki satuan elite anti teror yakni Detasemen Bravo (Den Bravo) Paskhas TNI AU yang banyak menjaga obyek vital termasuk wilayah Lanud di seluruh Indonesia.
Continue reading →

RIWAYAT SKADRON 465 PASKHAS

0 komentar

Embrio
Embrio Skadron 465 Paskhas tidak terlepas dari proses terbentuknya Korps Pasukan Khas (Korpaskhas) secara umum yang cikal bakalnya dari Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP) saat penjajahan Jepang di Indonesia dan terbentuknya TNI Angkatan Udara (TNI AU). TNI AU sendiri cikal bakalnya dari Badan Keamanan Rakyat Oedara (BKRO) yang merupakan bagian dari Badan Kemanan Rakyat (BKR).

1. BKRO – TKRO - TRIO

Dengan adanya perubahan dan penyempurnaan organisasi BKR menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), maka BKRO juga menjadi TKR Oedara (TKRO) yang saat itu dikenal dengan nama TKR Jawatan Penerbangan. Selanjutnya, seiring dengan peningkatan TKR menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) pada tangal 25 Januari 1946, maka TKRO juga menjadi TRI Oedara (TRIO). Pada tanggal 9 April 1946 TRIO atau TRI Jawatan Penerbangan kemudian disahkan menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) berdasarkan Penetapan Pemerintah Nomor: 6/SD/1946 Tanggal 9 April 1946 tentang Pengesahkan Tentara Republik Indonesia Jawatan Penerbangan menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia yang kemudian dikenal sampai sekarang dengan nama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) yang disejajarkan dengan TNI Angkatan Darat dan TNI Angkatan Laut.

2. Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP)

Dalam rangka konsolidasi organisasi, BKRO membentuk organisasi darat yaitu Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP) . PPP dibutuhkan untuk melindungi pangkalan-pangkalan udara yang telah direbut dari tentara Jepang terhadap serangan tentara Belanda yang pada waktu itu berusaha ingin kembali menduduki wilayah RI termasuk pangkalan-pangkalan udaranya. PPP saat itu masih bersifat lokal yang dibentuk di pangkalan-pangkalan udara seperti di pangkalan udara Bugis (Malang), Maospati (Madiun), Mojoagung (Surabaya), Panasan (Solo), Maguwo (Yogyakarta), Cibeureum (Tasikmalaya), Kalijati (Subang), Pameungpeuk (Garut) dan pangkalan-pangkalan udara di luar pulau Jawa seperti Talang Betutu (Palembang), Tabing (Padang) dan lain-lain.

PPP sangat berperan saat terjadi Agresi Militer I dan Agresi Militer II, yang saat itu hampir seluruh pangkalan udara mendapat serangan dari tentara Belanda baik dari darat maupun dari udara. Serangan besar-besaran yang dilancarkan oleh Belanda yaitu serangan terhadap pangkalan udara Maguwo Yogyakarta yang disertai dengan Pasukan Payungnya pada tanggal 19 Desember 1948. Saat itu PPP bersama kekuatan udara di pangkalan tersebut berusaha mempertahankan pangkalan sampai darah yang penghabisan. Begitu pula di pangkalan-pangkalan udara lainnya yang mendapat seragan dari Belanda.

PPP inilah yang merupakan cikal bakal dari Pasukan Payung yang sebelumnya pada tanggal 11 Pebruari 1946 telah melakukan percobaan latihan penerjunan yang pertama kali di pangkalan udara Maguwo Yogyakarta dengan menggunakan payung (paracute) dan pesawat terbang peninggalan Jepang, Pasukan Payung ini pulalah yang kemudian diterjunkan di Sambi Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah pada tanggal 17 Oktober 1947 yang selanjutnya berdasarkan Keputusan Men/Pangau Nomor 54 tahun 1967 tanggal 17 Oktober 1967 ditetapkan sebagai Hari Jadi Pasukan TNI AU yang sekarang dikenal dengan nama Korps Pasukan Khas.

Dalam periode selanjutnya, yaitu sejak tahun 1950 Pasukan Payung yang saat itu masih bernama PPP berpusat di Jakarta dengan sebutan Air Base Defence Troop (ABDT) yang membawahi 8 Kompi dan dipimpin oleh Kapten Udara A. Wiriadinata dengan wakilnya Letnan Udara I R. Soeprantijo. Kemudian pada pertengahan tahun 1950 dibentuk Inspektorat Pasukan Pertahan Pangkalan yang disebut IPP yang bermarkas di Jalan Sabang Jakarta, kemudian pada bulan April 1952 dipindahkan ke pangkalan udara Cililitan Jakarta Timur.

3. Pasukan Gerak Tjepat (PGT) dan Penangkis Serangan Udara (PSU)

Sementara itu, pada tahun 1950 juga diadakan sekolah terjun payung (Sekolah Para) yang diikuti oleh para prajurit dalam rangka pembentukan Pasukan Para TNI AU. Sekolah Para ini dibuka di pangkalan udara Andir Bandung sebagai kelanjutan dari embrio Sekolah Para di Maguwo. Hasil didik dari Sekolah Para inilah yang kemudian disusun dalam Kompi-Kompi Pasukan Gerak Tjepat (PGT) yang dibentuk pada bulan Pebruari 1952 dan Kapten Udara A. Wiriadinata sebagai komandannya yang saat itu merangkap sebagai komandan pangkalan udara Andir di Bandung.
Pada tahun 1950-an pasukan TNI AU terdiri dari PPP, PGT dan PSU (Penangkis Serangan Udara) yang kekuatannya terdiri dari 11 Kompi Berdiri Sendiri (BS), 8 Peleton BS dan 1 Battery PSU.

Pada perkembangan selanjutnya, pada tahun 1958 situasi politik dan keamanan dalam negeri semakin memburuk karena munculnya pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di Sumatera dan Sulawesi Utara yang mengatas namakan Dewan Gajah, Dewan Banteng, Dewan Garuda, PRRI dan Permesta. PGT bersama satuan tempur TNI lainnya juga ditugaskan dalam rangka penumpasan pemberontakan-pemberontakan tersebut dalam berbagai operasi seperti Operasi Tegas, Operasi Sapta Marga, Operasi 17 Agustus dan Operasi Merdeka. Selanjutnya pada tahun 1960-an PGT juga ditugaskan dalam rangka operasi pembebasan Irian Barat (Papua) yang berdasarkan perintah Men/Pangau maka dibentuklah Resimen Tim Pertempuran PGT (RTP PGT) yang bermarkas di Bandung dan Kapten Udara S. Soekani sebagai komandannya. RTP PGT membawahi 2 Batalyon PGT yaitu Batalyon A PGT yang dipimpin oleh Kapten Udara Z. Rachiman dan Batalyon B PGT yang dipimpin oleh Kapten Udara J.O. Palendeng.

Pada tanggal 15 Oktober 1962, berdasarkan Keputusan Men/Pangau Nomor: 195 dibentuklah Komando Pertahanan Pangkalan Angkatan Udara (KOPPAU). Panglima KOPPAU dirangkap oleh Men/Pangau dan sebagai wakilnya ditetapkan Komodor Udara A. Wiriadinata. KOPPAU terdiri dari Markas Komando (Mako) berkedudukan di Bandung, Resimen PPP di Jakarta dan Resimen PGT di Bandung. Resimen PPP membawahi 5 Batalyon yang berkedudukan di Jakarta, Banjarmasin, Makasar, Biak dan Palembang (kemudian pindah ke Medan). Resimen PGT terdiri dari 3 Batalyon yaitu Batalyon I PGT (merupakan Batalyon III Kawal Kehormatan Resimen Cakrabhirawa) berkedudukan di Bogor, Batalyon II PGT di Jakarta dan Batalyon III PGT di Bandung.

Berdasarkan Surat Keputusan Men/Pangau Nomor: III/PERS/MKS/1963 tanggal 22 Mei 1963, maka pada tanggal 9 April 1963 Komodor Udara A. Wiriadinata dikukuhkan menjadi Panglima KOPPAU dan menjabat selama 1 tahun. Kemudian pada tahun 1964 digantikan oleh Komodor Udara Ramli Soemardi sampai dengan tahun 1966.

4. Komando Pasukan Gerak Tjepat (Kopasgat)

Pada tanggal 11 sampai dengan 16 April 1966 diadakan Seminar Pasukan di Bandung. Berdasarkan hasil dari seminar tersebut dan sesuai dengan Keputusan Men/Pangau Nomor: 45 tahun 1966 tanggal 17 Mei 1966 KOPPAU disahkan menjadi Komando Pasukan Gerak Tjepat (Kopasgat) yang terdiri dari 3 Resimen yaitu:

Resimen I Pasgat bermarkas di Bandung, membawahi:
• Yon A Pasgat di Bogor
• Yon B Pasgat di Bandung

Resimen II Pasgat bermarkas di Jakarta, membawahi:
• Yon A Pasgat di Jakarta
• Yon B Pasgat di Jakarta
• Yon C Pasgat di Medan
• Yon D Pasgat di banjarmasin

Resimen III Pasgat bermarkas di Surabaya, membawahi:
• Yon A Pasgat di Makasar
• Yon B Pasgat di madiun
• Yon C Pasgat di Surabaya
• Yon D Pasgat di Biak
• Yon E Pasgat di Yogyakarta.

Selanjutnya, berdasarkan Keputusan Kepala Staf TNI AU (Kasau) Nomor: 57 tahun 1970 tanggal 1 Juli 1970, sebutan Resimen diganti menjadi Wing. Dengan demikian Resimen I Pasgat menjadi Wing I Pasgat, Resimen II Pasgat menjadi Wing II Pasgat dan Resimen III Pasgat menjadi Wing III Pasgat. Sementara itu, berdasarkan Surat Keputusan Kasau tersebut, sebutan Panglima diubah menjadi Komandan Jenderal (Danjen). Saat itu Komandan Kopasgat adalah Kolonel Udara Soetoro, sehingga sebutannya menjadi Danjen Kopasgat.

Pada tahun 1976, berdasarkan Keputusan Kasau Nomor: Kep/29/VI/1976 tanggal 21 Juni 1976 TNI AU membentuk Komando Paduan Tempur Udara (Kapatdara) sebagai realisasi Keputusan Menhankam/Pangab Nomor: Kep/14/IV/1976. Dalam organisasi Kopatdara ini secara tetap disusun 1 Batalyon Pasgat dengan status Bawah Komando Operasi (BKO) yaitu Yon I Pasgat dengan komandan Mayor Psk Affendi berkedudukan di Jakarta yang terdiri dari 3 Kompi Tempur (Kipur) dengan unsur-unsur antara lain:
• 1 Gugus Pengendali Tempur (Gus Dalpur)
• 1 Gugus Pengendali Pangkalan (Gus Dallan)
• 1 Gugus Para Rescue Tempur (Gus Para Rescue).
Disamping itu disusun juga Satuan Taktis (Sat Tis) Pasgat yang berkedudukan di Lanuma Husein Sastranegara Bandung dengan komandan Mayor Psk Surasmo dan 1 Batalyon Kopasgat (Batalyon II Kopasgat) berkedudukan di Jakarta dengan komandan Mayor Psk Budi Sutrisna. Disamping itu untuk luar Jakarta dibentuk Batalyon III Kopasgat berkedudukan di pagkalan udara Iswahyudi Madiun dan Batalyon IV Kopasgat berkedudukan di Surabaya lalu pindah ke pangkalan udara Abdulrahman Saleh Malang.
Ketiga unsur pasukan (Kopatdara, Sat Tis Pasgat dan Kopasgat) inilah yang merupakan embrio dari satuan ini yang kemudian sekarang dikenal dengan nama Skadron 465 Paskhas.
Kapan Lahirnya “Brajamusti”?
Hari kelahiran merupakan waktu yang dianggap sangat sakral dan bernilai historis, terutama bagi manusia. Ternyata bagi suatu instansi atau satuan-satuan dijajaran TNI, hari kelahiran juga dianggap sakral dan bernialai historis. Oleh karena itu sering bahkan setiap instansi atau satuan tersebut selalu mengadakan syukuran setiap tahunnya untuk memperingati Hari Ulang Tahun-nya (HUT).
Skadron 465 Paskhas sebagai salah satu satuan TNI di jajaran Korpaskhas keberadaanya juga berawal dari peristiwa “kelahiran”. Banyak generasi penerus yang belum mengetahui hari kelahiran satuan ini sehingga kadang muncul suatu pertanyaan: “Kapan hari kelahiran Skadron 465 Paskhas?” Pertanyaan ini wajar sekali muncul apalagi bagi prajurit-prajurit muda dan masyarakat umum yang ingin mengetahui “Hari Kelahiran” atau sering disebut ”Hari Jadi” dari satuan ini.
Pada manusia, hari kelahirannya sudah jelas yaitu di saat ia dilahirkan dari kandungan Ibu. Tetapi untuk menyatakan suatu hari yang dijadikan sebagai “Hari Kelahiran” atau “Hari Jadi” dari suatu satuan tidak semudah itu. Biasanya suatu satuan akan menetapkan waktu untuk dijadikan sebagai Hari Kelahirannya, didasarkan bukan saja hanya pada satu kejadian seperti pada hari kelahiran manusia, tetapi dapat didasarkan pada berbagai hal, misalnya didasarkan pada peristiwa heroik dan historik seperti penerjunan 13 orang Pasukan Payung di Sambi Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah pada tanggal 17 Oktober 1947 yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Kelahiran Korpaskhas atau didasarkan pada ketetapan atau keputusan pimpinan yang dinyatakan dengan suatu penetapan atau Surat Keputusan seperti Penetapan Presiden RI melalui Penetapan Pemerintah Nomor: 6/SD/1946 tanggal 9 April 1946 tentang Pengesahkan Tentara Republik Indonesia Jawatan Penerbangan menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia yang sekarang dikenal dengan sebutan TNI AU yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Kelahiran TNI AU atau Hari Jadi TNI AU dan lain-lain.
Khusus untuk menyatakan hari kelahiran Skadron 465 Paskhas nampaknya para sesepuh dulu dalam menetapkannya didasarkan pada jenis yang kedua yaitu berdasarkan ketetapan atau keputusan pimpinan (TNI AU) saat itu. Sebab secara resmi satuan tersebut dinyatakan ada atau berdiri yaitu setelah adanya likuidasi dari tiga Satuan yaitu Kopatdara, Sat Tis Pasgat dan Kopasgat yang dilikuidasi menjadi:
• Pasukan dengan spesialisasi Combatan (Tempur) masuk menjadi anggota Batalyon 461 Pasgat dengan Komandan Mayor Psk Supawan berkedudukan di Lanuma Halim Perdanakusuma Jakarta.
• Pasukan dengan spesialisasi Non-Combatan (Non Tempur) masuk menjadi anggota Sat Tis Pasgat (merupakan gabungan Kompi-Kompi Protokoler) dengan Komandan Mayor Psk Chaerudin (tahun 1979), yang kemudian berubah menjadi Batalyon 465 Pasgat (tahun 1982) dengan komandan Mayor Psk Hubandiri berkedudukan di Kramat Jati Jakarta.
Dengan mempertimbangkan rencana Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam) RI untuk merealisasi pembentukan 100 Batalyon Pasukan Tempur dengan kwalifikasi “Raider” dan dengan pertimbangan bahwa satuan terakhir yang dimantapkan dan direncanakan sebagai Batalyon Pasgat adalah Sat Tis, maka TNI AU dengan berdasarkan Keputusan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Nomor: KEP /01/ I / 1982 membentuk Batalyon 465 Pasukan Gerak Cepat (Pasgat) yang ditetapkan pada tanggal 6 Januari 1982 di Jakarta. Dengan adanya keputusan tersebut berarti Batalyon 465 Pasgat resmi dibentuk. Dan berdasarkan ketetapan inilah kemudian dijadikan sebagai Hari Kelahiran Batalyon 465 Pasgat (sekarang: Hari Kelahiran Skadron 465 Paskhas atau sebagai Hari Jadi Skadron 465 Paskhas). Oleh sebab itu setiap tahunnya yaitu pada tanggal 6 Januari satuan ini sudah sewajarnya memperingatinya sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan memohon keselamatan dalam mengemban tugas-tugas dimasa yang akan datang.
Dalam perkembangan selanjutnya, status Batalyon 465 Pasgat semakin kuat diakui sebagai salah satu Batalyon di jajaran TNI dengan adanya pemantapan 100 Batalyon ABRI oleh Menhankam/Pangab Jenderal TNI M. Yusuf. Sesuai dengan TOP ROI ’71, maka personel 1 Batalyon berjumlah 699 orang. Dengan demikian untuk TNI AU saat itu mempunyai 4 Batalyon Kopasgat yang dimantapkan menjadi 5 Batalyon Kopasgat. Upacara pemantapan untuk Batalyon-Batalyon di jajaran Kopasgat saat itu dilaksanakan di Ciuyah Banten, Irupnya diwakili oleh Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Ksad) Jenderal TNI Widodo. Saat itu Danjen Kopasgat dijabat oleh Marsekal Pertama TNI Sugiantoro. Dimana sebelumnya juga telah dilaksanakan latihan gabungan pelatih Raider di jajaran ABRI yang diikuti juga anggota-anggota dari Sat Tis yang kemudian menjadi Batalyon 465 Pasgat.
Untuk ksatrian satuan ini, pada mulanya berlokasi di Jalan Raya Bogor Kramatjati Jakarta Timur sampai dengan tahun 1981 yang tadinya merupakan ksatrian Kompi Protokol Pasgat. Selanjutnya pada bulan Oktober 1981 ksatrian Batalyon 465 Pasgat pindah ke tempat bekas ksatriannya Batalyon 461 Pasgat di Jalan Dwikora Raya Halim Perdanakusumah (sekarang menjadi Secabpaum). Pemindahan ini dilaksanakan karena kondisinya tidak memenuhi persyaratan lagi sebagai suatu ksatrian. Sementara itu, sebelumnya Batalyon 461 Pasgat telah pindah ke ksatrian yang baru yang ditempati sebagai ksatrian satuan ini sampai dengan sekarang (di Jalan Dwikora Raya Halim Perdanakusumah) sebelah timur Secabpaum.
Setelah ksatrian Batalyon 465 Pasgat yang berada di Jalan Kumboyono Dirgantara III Halim Perdanakusuma selesai dibangun, maka pada bulan Oktober 1983 diadakan operasi boyong (pindah ksatrian) lagi dari Jalan Dwikora Raya Halim Perdanakusumah ke tempat tersebut.
Apa Artinya “465” Paskhas ?
Pemberian nama pada sesuatu akan lebih berhati-hati jika dikaitkan dengan nilai-nilai sejarah, karena sebuah nama pun dapat bernilai historis. Begitu halnya pemberian nama satuan di jajaran ABRI termasuk nama satuan ini, sepintas nama Skadron 465 Paskhas memang berkesan biasa-biasa saja, tetapi ternyata masih ada yang menanyakan tentang nama satuan ini terutama tentang pemakaian angka 465: ”Mengapa 465? Apakah tidak dapat 5 (angka lima) saja?”. Pertanyaan ini juga wajar muncul, yang muncul juga dari prajurit-prajurit baru yang ingin tahu di satuan ini.
Pada umumnya pemberian angka pada sebuah nama menunjukkan suatu urutan, misalnya di jajaran TNI AD dalam 1 Resimen terdiri dari 3 Batalyon, maka Batalyon yang pertama biasanya diberi angka 1 sehingga menjadi Batalyon 1, Batalyon kedua diberi angka 2 sehingga menjadi Batalyon 2 dan begitu juga untuk Batalyon ketiga diberi angka 3 sehingga menjadi Batalyon 3. Tetapi yang menjadi pertanyaan khususnya di jajaran Korpaskhas yang terdiri dari 6 Skadron (setingkat Batalyon) mengapa tidak memakai angka 1, 2, 3, 4, 5 dan 6, melainkan langsung memakai angka 461, 462, 463, 464, 465 dan 466. Mungkin hal inilah yang menyebabkan munculnya pertanyaan di atas.
Ternyata pemberian angka 465 tersebut bukan sembarang atau begitu saja memberikannya dan ternyata angka-angka tersebut mempunyai nilai historis. Pemberian angka ini sesuai dengan usulan dari Kepala Staf TNI Angkatan Udara saat itu Marsekal TNI Ashadi Tjahyadi dan sejalan dengan peristiwa kelahiran satuan ini yaitu dengan adanya likuidasi satuan-satuan termasuk di jajaran Kopasgat saat itu. Pemberian nama Batalyon 465 Pasgat dan angka 465 yang tertera dalam nama tersebut ternyata mengandung makna. Menurut penjelasan beliau: 465 terdiri dari 46 dan 5. Angka 46 mempunyai arti tahun berdirinya TNI AU yaitu tahun 1946 tepatnya tanggal 9 April 1946 berdasarkan Ketetapan Pemerintah Nomor: 6/SD/1946 tanggal 9 April 1946 tentang Pengesahkan Tentara Republik Indonesia Jawatan Penerbangan menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia yang sekarang dikenal dengan sebutan TNI AU yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Kelahiran TNI AU atau Hari Jadi TNI AU. Selanjutnya dijelaskan bahwa angka 5 mempunyai arti untuk menunjukkan bahwa Batalyon Pasgat tersebut merupakan Batalyon urutan kelima dari 6 Batalyon yang ada di jajaran Kopasgat saat itu, sehingga satuan tersebut mengunakan angka gabungan 46 dan 5 sehingga menjadi 465 yang mempunyai arti bahwa Batalyon Pasgat tersebut merupakan Batalyon yang kelima di jajaran Kopasgat dan merupakan salah satu satuan yang terdapat di dalam tubuh TNI AU. Dengan demikian penggunaan angka tersebut tidak dapat dipisah atau digunakan satu angka saja misalnya angka 5 saja, sehinga menjadi Batalyon 5 Pasgat (Skadron 5 Paskhas), hal ini tidak dapat, karena satuan ini merupakan bagian integral dari TNI AU.
Dari penjelasan tersebut, kiranya menjadi jelas ternyata angka 465 yang terdapat dalam nama satuan ini yang sekarang dikenal dengan nama Skadron 465 Paskhas mempunyai arti atau makna yang dalam dan bernilai historis.
Mengapa Berganti Nama ?
Perubahan nama atau istilah itu misalnya sebutan Panglima menjadi Komandan Jenderal (Danjen) pada tahun 1970 berdasarkan Keputusan Kasau Nomor 57 tahun 1970 tanggal 1 Juli 1970 sehingga Panglima Kopasgat yang saat itu dijabat oleh Kolonel Psk Soetoro sebutannya berubah menjadi Danjen Kopasgat dan berdasarkan Keputusan itu sebutan Resimen berubah menjadi Wing sehingga Resimen I Pasgat berubah menjadi Wing I Pasgat begitu pula untuk Resimen II Pasgat dan Resimen III Pasgat berubah menjadi Wing II Pasgat dan Wing III Pasgat.
Untuk nama satuan juga mengalami berubah dari PPP, PGT dan PSU berubah menjadi KOPPAU kemudian berubah lagi menjadi Kopasgat yang disahkan berdasarkan Keputusan Men/Pangau Nomor: 45 tahun 1966 tanggal 11 Mei 1966, lalu Kopasgat berubah menjadi Puspaskhasau pada tahun 1985 berdasarkan Keputusan Kasau Nomor: Kep/22/III/1985 tangal 11 Maret 1985 dan terakhir nama Puspaskhasau berubah menjadi Korpaskhas pada tahun 1997 sampai sekarang berdasarkan Keputusan Pangab Nomor: Skep/9/VII/1997 tanggal 7 Juli 1997.
Untuk tingkat Batalyon di jajaran Paskhas juga mengalami perubahan nama yaitu Batalyon berubah menjadi Skadron pada tahun 1985 sejalan dengan berubahnya nama Kopasgat menjadi Puspaskhasau berdasarkan Keputusan Kasau Nomor: Kep/22/III/1985 tangal 11 Maret 1985. Dengan demikian istilah Batalyon 465 Pasgat (yang cikal bakalnya merupakan Batalyon B Pasgat dari Resimen II Pasgat kemudian menjadi Sat Tis) yang akhirnya juga berubah nama menjadi Skadron 465 Paskhas (sebelum terbentuknya Wing di jajaran Korpaskhas bernama Skadron Paskhas 465).
Pergantian nama tersebut mungkin dapat terjadi pula di satuan-satuan lain di jajaran TNI sesuai dengan perjalanan sejarahnya. Alangkah baiknya, jika setiap prajurit TNI AU dan prajurit Korpaskhas serta Skadron 465 Paskhas khususnya, mengetahui perubahan-perubahan nama serta perjalanan sejarah satuannya. Dengan demikian akan lebih mengenal satuannya dan jati dirinya.
Organisasi
Pada bagian terdahulu telah diuraikan tentang cikal bakal, hari kelahiran Skadron 465 Paskhas dan perubahan-perubahan nama yang kesemuanya itu tidak terlepas dari sejarah TNI dan Korpaskhas secara umum. Organisasi Skadron 465 Paskhas juga mengalami perubahan-perubahan seiring dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh organisasi Korpaskhas secara keseluruhan. Perubahan-perubahan yang terjadi sejak kelahirannya sampai dengan sekarang tersebut disebabkan karena adanya reorganisasi yang disesuaikan dengan situasi, kondisi dan tuntutan tugas yang harus diemban oleh TNI khususnya TNI AU serta Paskhas dari waktu ke waktu. Perubahan organisasi itu terjadi juga seiring dengan perubahan-perubahan sebutan atau nama satuan mulai dari nama PPP, PGT, Kopasgat, Puspaskhasau sampai dengan sebutan yang sekarang dikenal dengan nama Korpaskhas.
Misalnya, dengan berdasarkan Keputusan Pangab Nomor: Skep/9/VII/1997 tanggal 7 Juli 1997, nama Puspaskhasau berubah menjadi Korpaskhas. Perubahan dari istilah “Pusat” menjadi “Korps” berarti juga perubahan dari tingkat Badan Pelaksana Pusat (Balakpus) menjadi Komando Utama Pembinaan (Kotamabin) TNI AU. Hal ini menunjukkan adanya perubahan organisasi sesuai dengan perubahan istilah dan status tersebut. Istilah Komandan Puspaskhas (Danpuspaskhasau) otomatis juga berubah menjadi Komandan Korpaskhas (Dankorpaskhas). Perubahan organisasi secara langsung juga terjadi di jajaran bawahannya sampai kepada tingkat Skadron. Oleh karena itu, susunan organisasi yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah susunan organisasi setelah status Paskhas menjadi Kotamabin TNI AU yaitu organisasi yang telah disahkan berdasarkan Keputusan Kasau Nomor: Kep/5/III/1999 tanggal 16 Maret 1999 tentang Pokok-pokok Organisasi dan Prosedur Kotama Pembinaan TNI AU Korpaskhas yang secara efektif berlaku mulai tanggal 1 April 1999.
Tugas Pokok
Sebelum Korpaskhas berstatus sebagai Kotamabin TNI AU (masih berstatus Balahanpus dan Balahanwil) tugas-tugas yang diemban Skadron 465 Paskhas adalah pengamanan pertahanan Alut sista di pangkalan udara Halim Perdanakusuma dalam rangka mendukung operasi penerbangan dan melaksanakan tugas keprotokoleran di wilayah ibu kota RI, walaupun sebenarnya tugas pokoknya adalah sebagai satuan tempur seperti Skadron 461 atau 462 dan yang lainnya. Hal ini disebabkan karena kebutuhan dan situasi. Tugas ini masih dibebankan pada satuan ini sampai dengan terbentuknya Detasemen Kawal Protokol (Denwalkol) Korpaskhas berdasarkan Surat Keputusan Kasau Nomor: KEP/73/III/1999 tanggal 24 Maret 1999 sejalan dengan pembentukan Detasemen Bravo dan Wing (Wing I, Wing II dan Wing III/Diklat) di jajaran Korpaskhas. Setelah itu, maka tugas keprotokoleran diambil alih oleh Denwalkol, sedangkan tugas pokok Skadron 465 Paskhas sesuai dengan Keputusan Kasau Nomor: Kep/5/III/1999 tanggal 16 Maret 1999 yakni sebagai salah satu satuan tempur yang berkedudukan di Jakarta (rencana dipindahkan ke pangkalan udara Supadio Pontianak Kalimantan Barat) di bawah komando Wing I Paskhas untuk mendukung tugas-tugas Korpaskhas, TNI AU dan TNI pada umumnya.
Berdasarkan Keputusan Kasau Nomor: Kep/5/III/1999 tanggal 16 Maret 1999 terutama pada Pasal 2 Lampiran “IV-4” dari Keputusan tersebut disebutkan bahwa:
Skadron Paskhas bertugas untuk mengamankan dan mempertahankan Pangkalan/Alutsista/Instalasi TNI Angkatan Udara, Pengendalian Tempur, Pengendalian Pangkalan, Pengendalian Udara Depan, Pengendalian Pangkalan Udara Depan, SAR Tempur serta tugas-tugas lain sesuai kebijakan Panglima TNI.
Sesuai dengan tugas pokok tersebut, maka Skadron 465 Paskhas juga harus melaksanakan fungsi-fungsinya. Berdasarkan Keputusan Kasau Nomor: Kep/5/III/1999 tanggal 16 Maret 1999 terutama pada Pasal 3 Lampiran “IV-4” dari Keputusan tersebut disebutkan tentang fungsi-fungsi dari satuan ini sebagai berikut:
Dalam rangka pelaksanaan tugas tersebut pada Pasal 2 di atas, Skadron Paskhas menyelenggarakan fungsi-fungsi sebagai berikut:
a. Menyusun rencana dan program rencana serta program pembinaan Skadron Paskhas berdasarkan rencana dan program Wing I Paskhas.
b. Menyiapkan kemampuan dan kekuatan Skadron termasuk alat peralatannya untuk menjamin terlaksananya tugas pokok dengan melaksanakan latihan yang diprogramkan.
c. Menyiapkan Satuan untuk tugas pengamanan dan pertahanan Pangkalan / Alutsista / Instalasi TNI Angkatan Udara.
d. Melaksanakan operasi-operasi udara meliputi Pengendalian Tempur, Pengendalian Pangkalan, Pengendalian Udara Depan, Pengendalian Pangkalan Udara Depan dan SAR Tempur.
e. Melaksanakan Operasi Perebutan dan Pengendalian Pangkalan Udara (OP3U).
f. Melaksanakan operasi-operasi lain sesuai dengan kebijakan Panglima TNI baik dalam operasi Pertahanan maupun operasi Kamdagri serta tugas-tugas TNI lainnya.
g. Melaksanakan koordinasi dan kerja sama dengan Komando Atas/ Samping dan instalasi lain baik di dalam maupun di luar Wing Paskhas untuk kepentingan pelaksanaan tugasnya sesuai lingkup dan tingkat kewenangannya.
h. Mengajukan pertimbangan dan saran kepada Komandan Wing I Paskhas khususnya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan bidang tugasnya.
Continue reading →

Mengenal KoPasKhas TNI AU, satu satunya pasukan Angkatan Udara di Asia

0 komentar
Paskhas
All Hands,
Bila Angkatan darat memiliki Kostrad (Komando Strategis Angkatan Darat), Angkatan Laut memiliki Marinir, maka Angkatan udara memilik Pasukan Khas (Paskhas, Kopaskhas, Baret Jingga). Pasukan dengan baret berwarna jingga ini adalah satu satunya pasukan dengan kualifikasi Korps Pasukan Khas TNI-AU di Asia dan terlengkap di dunia, dahulu dikenal dengan nama Pasukan Gerak Tjepat dan Kopasgat. Angkatan Udara USA juga memiliki pasukan serupa dalam beberapa satuan yakni US Air Force Control Combat Team, US Air Force Pararescue, dan US Air Force Air Tactical Control Party.


paskhasbaris1

Paskhas merupakan satuan khusus milik TNI AU yang memiliki kemampuan di 3 matra, yaitu laut, darat dan udara. Dalam misinya, Paskhas lebih ditujukan untuk menguasai dan mempertahankan pangkalan udara dari serangan musuh, untuk selanjutnya mempersiapkan pendaratan pesawat kawan. Kemampuan ini disebut dengan Operasi Pembentukan dan Pengoperasian Pangkalan Udara Depan (OP3UD). Sama seperti pasukan elit lainnya, setiap anggota paskhas diwajibkan memiliki kualifikasi para-komando (parako) untuk dapat melaksanakan tugas secara profesional, yang nantinya ditambahkan kemampuan khusus kematraudaraan sesuai spesialisasinya.

Sepak terjang Paskhas sudah dimulai sejak era perang kemerdekaan, berbagai misi sudah pernah diemban oleh pasukan elit udara ini. Saat ini Paskhas diperkuat oleh 7.332 orang yang dilengkapi dengan berbagai jenis senjata pendukung. Terjun payung merupakan salah satu keahlian utama Paskhas untuk menguasai dan Mengoperasikan pangkalan lawan yang berhasil direbut, Awalnya konsep tugas Paskhas adalah sebagai pasukan pertahanan pangkalan (Defensif) maka sekarang ini konsep tersebut dirubah menjadi pasukan pemukul (ofensif) dan pasukan pertahanan (defensif).

Paskhas merupakan bagian inti dari PPRC, Pasukan Pemukul Reaksi Cepat, suatu penggelaran pasukan berintensitas tinggi yang didukung juga oleh kesatuan Lintas Udara dari Kostrad. PPRC pasukan pemukul TNI untuk mengatas kondisi darurat di wilayah NKRI, ketika perang Aceh berkorbar, PPRC diterjukan untuk mengamankan tempat-tempat strategis seperti bandara. Didalam tubuh pasukan khas juga terdapat pasukan elit paling muda di Indonesia, yakni Detasemen Bravo 90, merupakan pasukan anti teror miliki Angkatan Udara yang tak kalah hebat dari pasukan elit paling populer Kopassus.

1826

Weapons :
QW-3, DSHK 12,7 mm, SS-1/SS-2, MP5, M16 A3 Commando, SAR-21,Sniper SIG SHR 970 Tactical Rifle,Sniper SIG Sauer SSG 3000, Countersniper FN Hecate II, Pistol Glock 17C dan 19C

Mobility :
Land Rover Defender MRCV (multi role combat vehicle), Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T), Pindad Anoa dan aneka Kendaraan taktis lainnya.
Pasukan elit Angkatan Udara ini akan unjuk kekuatan tempurnya saat ulang tahun Angkatan Udara 9 April nanti, so don’t miss it..
Continue reading →

Paskhas Au

0 komentar
Pasukan Khusus Detasemen Bravo Paskhas TNI AU melakukan penyerbuan ke rumah ban saat demo operasi perebutan pertahanan pangkala udara di Mako Korps Pasukan Khas TNI AU, Lanud Sulaeman, Margahayu Selatan, Kabupaten Bandung, Rabu (7/3/2012). Demo tersebut digelar dalam rangkaian acara pengangkatan warga kehormatan menjadi warga Korpaskhas kepada Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Kapolri Jenderal Timur Pradopo, Kasad Jenderal Pramono Edhie Wibowo, Kasal Laksamana TNI Soeparno dengan simbolisasi tanda kehormatan baret jingga, brevet dan pisau komando yang disematkan oleh Dankor Paskhas Marskal Muda TNI Amarullah dan dihadiri Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat.





Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Kapolri Jenderal Timur Pradopo, Kasad Jenderal Pramono Edhie Wibowo, Kasal Laksamana TNI Soeparno dengan simbolisasi tanda kehormatan baret jingga, brevet dan pisau komando yang disematkan oleh Dankor Paskhas Marskal Muda TNI Amarullah dan dihadiri Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat. di Mako Korps Pasukan Khas TNI AU, Lanud Sulaeman, Margahayu Selatan, Kabupaten Bandung, Rabu (7/3/2012)

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Kapolri Jenderal Timur Pradopo, Kasad Jenderal Pramono Edhie Wibowo, Kasal Laksamana TNI Soeparno dengan simbolisasi tanda kehormatan baret jingga, brevet dan pisau komando yang disematkan oleh Dankor Paskhas Marskal Muda TNI Amarullah dan dihadiri Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat. di Mako Korps Pasukan Khas TNI AU, Lanud Sulaeman, Margahayu Selatan, Kabupaten Bandung, Rabu (7/3/2012)


Pasukan Paskhas TNI AU melakukan defile pada acara pengangkatan warga Korpaskhas di Mako Korps Pasukan Khas TNI AU, Lanud Sulaeman, Margahayu Selatan, Kabupaten Bandung, Rabu (7/3). Pada acara tersebut Korpaskhas menggelar pengangkatan warga kehormatan menjadi warga Korpaskhas kepada Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Kapolri Jenderal Timur Pradopo, Kasad Jenderal Pramono Edhie Wibowo, Kasal Laksamana TNI Soeparno dengan simbolisasi tanda kehormatan baret jingga, brevet dan pisau komando yang disematkan oleh Dankor Paskhas Marskal Muda TNI Amarullah dan dihadiri Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat.


Pasukan Paskhas TNI AU melakukan defile pada acara pengangkatan warga Korpaskhas di Mako Korps Pasukan Khas TNI AU, Lanud Sulaeman, Margahayu Selatan, Kabupaten Bandung, Rabu (7/3). Pada acara tersebut Korpaskhas menggelar pengangkatan warga kehormatan menjadi warga Korpaskhas kepada Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Kapolri Jenderal Timur Pradopo, Kasad Jenderal Pramono Edhie Wibowo, Kasal Laksamana TNI Soeparno dengan simbolisasi tanda kehormatan baret jingga, brevet dan pisau komando yang disematkan oleh Dankor Paskhas Marskal Muda TNI Amarullah dan dihadiri Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat.
Continue reading →

Panglima TNI dan Kapolri warga kehormatan Korps Paskhas TNI-AU

0 komentar

Panglima TNI, Laksamana TNI Agus Suhartono, dan Kepala Polri, Jenderal Pol Timur Pradopo, mendapat wing komando kehormatan Korps Pasukan Khas TNI-AU, di Bandung, Rabu.

Wing komando kehormatan Pasukan Khas TNI-AU juga diberikan kepada Kepala Staf TNI-AD, Jenderal TNI Pramono Wibowo, dan Kepala Staf TNI-AL, Laksamana TNI Soeparno.

Penyematan dilakukan Komandan Korps Pasukan Khas TNI-AU, Marsekal Muda Ammarullah, dalam apel khusus di Lapangan Apel Markas Komando Korps Paskhas, di Pangkalan Udara Sulaeman, Bandung.

Bersama penyematan wing komando kehormatan, diberikan pula pisau komando kepada masing-masing petinggi militer dan Polri tersebut.

"Baret jingga yang saya kenakan bukan sekadar simbol, tetapi merupakan bentuk penghargaan, penghormatan, kebanggan tidak saja bagi saya tetapi juga Korps Paskhas," kata Suhartono.

http://www.antaranews.com/berita/300220/panglima-tni-dan-kapolri-warga-kehormatan-korps-paskhas-tni-au
Continue reading →